Monday, May 16, 2011

MAKALAH ASI EKSKLUSIF

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Hadiah yang paling berharga bagi bayi yang baru lahir adalah ASI (air susu ibu). Seperti halnya binatang menyusui, ibu manusia juga memproduksi air susu secara unik sesuai dengan usianya, dan secara alami disesuaikan untuk pertumbuhan bayinya. Beragam gizi yang dikandung ASI memberikan keseimbangan ideal antara protein, laktosa, mineral, dan vitamin. Masa menyusui dapat disebut sebagai peringkat keempat dari masa melahirkan. Setelah bayi lahir, produksi air susu menyusul, memberikan kehangatan dan kasih sayang beserta gizi yang ideal.
98% wanita mempunyai kemampuan untuk menyusui, bahkan kebanyakan dari mereka mampu menyusui sepasang anak kembar sekaligus jika dibutuhkan. Sangat disayangkan banyak diantara kita melupakan keuntungan dan kenikmatan menyusui selama ini dengan membiarkan bayi terbiasa menyusui dari alat pengganti. Padahal hanya sedikit bayi yang sebenarnya perlu menyusu botol. Tidak ada makanan lain bagi bayi yang baru lahir yang dapat disamakan dengan ASI.
Kebanyakan ibu memerlukan dukungan dan dorongan agar dapat menyusui dengan baik. Mereka juga memerlukan informasi yang dapat diandalkan pada dasarnya pemberian susu pertama merupakan pengalaman pembelajaran untuk ibu dan bayinya.

1.2 Tujuan Penulisan
1.2.1 Tujuan Umum
Memberikan gambaran umum bagi mahasiswa mengenai teknik menyusui dan ASI eksklusif.



1.2.2 Tujuan Khusus
Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami tentang :
1. Teknik menyusui yang benar : pengertian, pembentukan dan persiapan ASI, posisi dan perlekatan menyusui, langkahlangkah menyusui yang benar, cara pengamatan teknik menyusui yang benar, cara melepas hisapan bayi, hal yang penting dilakukan setelah menyusui, lama dan frekuensi menyusui, dan nasihat praktis pada ibu menyusui.
2. ASI Eksklusif : pengertian, keuntungan ASI, manfaat ASI bagi bayi dan ibu, pembagian ASI, komposisi ASI, waktu pemberian ASI, dan faktor-faktor yang mempengaruhi produksi ASI

1.3 Manfaat Penulisan
Mahasiswa dapat menerapkan ilmu yang telah didapat dimeja perkuliahan, terutama yang berhubungan dengan teknik menyusui yang benar dan ASI eksklusif.


















BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1 Teknik Menyusui Yang Benar
2.1.1 Pengertian
Teknik menyusui yang benar adalah cara memberikan ASI kepada bayi dengan perlekatan dan posisi ibu dan bayi dengan benar.(Perinasia, 1994)

2.1.2 Pembentukan dan Persiapan ASI
Persiapan memberikan ASI dilakukan bersamaan dengan kehamilan. Pada kehamilan, payudara semakin padat karena retensi air, lemak serta berkembangnya kelenjar-kelenjar payudara yang dirasakan tegang dan
sakit. Bersamaan dengan membesarnya kehamilan, perkembangan dan persiapan untuk memberikan ASI makin tampak. Payudara makin besar, puting susu makin menonjol, pembuluh darah makin tampak, dan aerola mamae makin menghitam.
Persiapan memperlancar pengeluaran ASI dilaksanakan dengan jalan :
1. Membersihkan puting susu dengan air atau minyak, sehingga epitel yang lepas tidak menumpuk.
2. Puting susu ditarik-tarik setiap mandi, sehingga menonjol untuk memudahkan isapan bayi.
3. Bila puting susu belum menonjol dapat memakai pompa susu atau dengan jalan operasi.

2.1.3 Posisi dan Perlekatan Menyusui
Terdapat berbagai macam posisi menyusui. Cara menyususi yang tergolong biasa dilakukan adalah dengan duduk, berdiri atau berbaring.

Gambar 1. Posisi menyusui sambil berdiri yang benar.



Gambar 2. Posisi menyusui sambil duduk yang benar .

Gambar 3. Posisi menyusui sambil rebahan yang benar

Ada posisi khusus yang berkaitan dengan situasi tertentu seperti ibu pasca operasi sesar. Bayi diletakkan disamping kepala ibu dengan posisi kaki diatas. Menyusui bayi kembar dilakukan dengan cara seperti memegang bola bila disusui bersamaan, dipayudara kiri dan kanan. Pada ASI yang memancar (penuh), bayi ditengkurapkan diatas dada ibu, tangan ibu sedikit menahan kepala bayi, dengan posisi ini bayi tidak tersedak.


Gambar 4. Posisi menyusui balita pada kondisi normal.

Gambar 5. Posisi menyusui bayi baru lahir yang benar di ruang perawatan.



Gambar 6. Posisi menyusui bayi baru lahir yang benar di rumah.



Gambar 7. Posisi menyusui bayi bila ASI penuh.

Gambar 8. Posisi menyusui bayi kembar secara bersamaan.

2.1.4 Langkah-langkah Menyusui yang Benar
1. Cuci tangan yang bersih dengan sabun.
2. Sebelum menyusui ASI dikeluarkan sedikit, kemudian dioleskan pada putting dan disekitar kalang payudara. Cara ini mempunyai manfaat sebagai desinfektan, dan menjaga kelembapan putting susu.
3. Bayi diletakkan menghadap perut ibu atau payudara.


Gambar 9. Cara meletakan bayi

• Ibu duduk atau berbaring dengan santai, bila duduk lebih baik menggunakan kursi yang rendah (agar kaki ibu tidak menggantung) dan punggung ibu bersandar pada sandaran kursi.
• Bayi dipegang pada belakang bahunya dengan satu lengan, kepala bayi terletak pada lengkung siku ibu (kepala tidak boleh menenggadah dan bokong bayi ditahan ditelapak tangan).
• Satu tangan bayi diletakkan pada belakang badan ibu, dan yang satu didepan.
• Perut bayi menempel pada badan ibu, kepala bayi menghadap payudara (tidak hanya membelokkan kepala bayi)
• Telinga dan lengan bayi terletak pada satu garis lurus
• Ibu menatap bayi dengan kasih sayang
4. Payudara dipegang dengan ibu jari diatas dan jari yang lain menopang dibawah, jangan menekan putting susu atau kalang payudaranya saja.

Gambar 10. Cara memegang payudara.

5. Bayi diberi rangsangan agar membuka mulut (rooting refleks)dengan cara
• Menyentuh pipi dengan putting susu
• Menyentuh sisi mulut bayi

Gambar 11. Cara merangsang mulut bayi.

6. Setelah bayi membuka mulut, dengan cepat kepala bayi didekatkan ke payudara ibu dan putting serta kalang payudara dimasukkan kemulut bayi :
• Usahakan sebagian kalang besar payudara dapat masuk kedalam mulut bayi, sehingga putting susu berada dibawah langit-langit dan lidah bayi akan menekan ASI keluar dari tempat penampungan ASI yang terletak dibawah kalang payudara. Posisi yang salah, yaitu apabila bayi hanya menghisap pada putting susu saja akan mengakibatkan masukkan ASI yang tidak adekuat dan putting susu lecet.
• Setelah bayi mulai menghisap payudara tidak perlu dipegang atau disangga lagi.


Gambar 12. Perlekatan benar.



Gambar 13. Perlekatan salah.

2.1.5 Cara Pengamatan Teknik Menyusui yang Benar
Teknik menyusui yang tidak benar dapat mengakibatkan putting susu menjadi lecet, ASI tidak keluar optimal sehingga mempengaruhi produksi ASI selanjutnya atau bayi enggan menyusu. Untuk mengetahui bayi telah menyusu dengan teknik yang benar dapat dilihat :
1. Bayi nampak tenang
2. Badan bayi menempel pada perut ibu
3. Mulut bayi terbuka lebar
4. Dagu menempel pada payudara ibu
5. Sebagian besar kalang payudara masuk kedalam mulut bayi
6. Bayi nampak menghisap kuat dengan irama perlahan
7. Puting susu ibu tidak terasa nyeri
8. Telinga dan lengan bayi terletak pada satu garis lurus
9. Kepala tidak menenggadah


Gambar 14. Teknik menyusui yang benar

2.1.6 Cara Melepas Hisapan Bayi
Setelah menyusui pada satu payudara sampai terasa kosong, sebaiknya diganti dengan payudara yang satunya. Cara melepas hisapan bayi :
1. Jari kelingking ibu dimasukkan kemulut bayi melalui sudut mulut
2. Dagu bayi ditekan ke bawah

2.1.7 Hal yang Penting Dilakukan Setelah Menyusui
1. Setelah selesai menyusui, ASI dikeluarkan sedikit kemudian dioleskan pada putting susu. Dan disekitar kalang payudara, biarkan kering dengan sendirinya
2. Menyendawakan bayi
Tujuan menyendawakan bayi adalah untuk mengeluarkan udara dari lambung supaya bayi tidak muntah setelah menyusu
Cara menyendawakan bayi adalah :
• Bayi digendong tegak dengan bersandar pada bahu ibu, kemudian punggungnya ditepuk perlahan-lahan
• Bayi tidur tengkuranp dipangkuan ibu dan kemudian punggungnya ditepuk perlahan-lahan

2.1.8 Lama dan Frekuensi Menyusui
Sebaiknya menyusui tanpa dijadwal (on demand), karena bayi akan menentukan kebutuhannya sendiri. Ibu harus menyusui bayinya bila bayi menangis bukan karena sebab lain (kencing, dsb) atau ibu sudah perlu menyusui bayinya. Bayi yang sehat dapat mengkosongkan satu payudara sekitar 5-7 menit dan ASI dalam lambung bayi akan kosong dalam waktu 2 jam.
Pada awalnya bayi akan menyusu dengan jadwal yang tidak teratur dan akan mempunyai pola tertentu setelah satu sampai 2 minggu kemudian.
Menyusui yang dijadwalkan akan berakibat kurang baik, karena hisapan bayi sangat berpengaruh pada ransangan produksi ASI selanjutnya. Dengan menyusui tanpa dijadwal, sesuai dengan kebutuhan bayi, akan mencegah masalah yang mungkin timbul. Menyusui pada malam hari sangat berguna bagi ibu yang bekerja, karena dengan sering disusukan pada malam hari akan memacu produksi ASI, dan juga akan mendukung keberhasilan menunda kehamilan.
Untuk menjaga kesimbangan besarnya kedua payudara, maka sebaiknya setiap kali menyusui harus menggunakan kedua payudara dan diusahakan sampai payudara terasa kosong, agar produksi ASI tetap baik. Setiap menyusui dimulai dengan payudara yang terakhir disusukan. Selama menyusui, sebaiknya ibu menggunakan BH yang dapat menyangga payudara tetapi tidak terlalu ketat.

Gambar 15. Kutang (BH) yang baik untuk ibu menyusui.


2.1.9 Nasihat Praktis Pada Ibu Menyusui
Nasihat perlu diberikan terutama pada ibu-ibu yang baru pertama kali menyusui anak, dan belum mengetahui cara menyusui yang benar.
1. Dukungan psikologis
Untuk menyusui secara lebih berhasil seorang ibu perlu rasa percaya diri (confident) yaitu :
• Ibu yakin bahwa ia dapat menyusui dan ASI adalah yang terbaik bayinya. Ibu juga harus yakin bahwa ASI akan mencukupi bayinya terutama awal-awal bulan setelah lahir, dan produksi ASI tidak tergantung pada besar kecilnya payudara
• Diperlukan dukungan psikologis dari :
a. Keluarga dekat terutama wanita seperti ibu, ibu mertua, kakak wanita, atau teman wanita lain yang telah berpengalaman dan berhASIl dalam menyusui
b. Suami yang mengerti bahwa ASI adalah makanan yang terbaik untuk bayinya, merupakan pendukung yang baim demi keberhasilan menyusui.
c. Kelompok pendukung ASI (KP-ASI)
d. Petugas kesehatan
2. Pesan-pesan penting dalam menyusui bayi adalah :
a. Susui bayi segera dalam 30 menit pertama setelah lahir
b. Berikan kolostrum
c. Hindarakan pemberikan minuman pralakteal (air gula, aqua, dll) sebelum ASI keluar agar bayi diberi kesempatan menghisap untuk merangsang produksi ASI. Sehingga ASI dapat cepat keluar.
d. Susui bayi pada kedua payudara secra bergantian
e. Hanya diberikan ASI selama 6 bulan (ASI ekslusif)
f. Berikan ASI tanpa dijadwal
g. Perhatikan cara/ posisi yang benar, yaitu putting dan sebagian kalang payudara harus masuk kemulut bayi untuk menghindari putting susu lecet
h. Mulai memberikan makanan pendamping ASI (MP-ASI) pada umur 6 bulan dalam bentuk makanan lumat
i. Menyusui sebaiknya dilanjutkan sampai anak berumur 2 tahun. Menyapihan dilakukan secara bertahap.
j. Teruskan menyusui walaupun ibu atau anak sedang sakit kecuali yang sedang sakit berat, yang sesuai dengan petunjuk dokter
k. Perhatikan gizi ibu hamil/ menyusui, ibu memerlukan ekstra makan minum yang lebih banyak, jika ibu bekerja diluar rumah, beri ASI sebelum dan sesudah pulang kerja. Hanya selama ibu bekerja saja, bayi boleh diberikan susu formula.
3. Perawatan payudara
Untuk mencegah masalah-masalah yang mungkin timbul pada ibu menyusui maka sebaiknya perawatan payudara dilakukan secara rutin.




2.2 ASI Eksklusif
2.2.1 Pengertian
Yang dimaksud dengan ASI eksklusif atau lebih tepat pemberian ASI secara eksklusif adalah: bayi hanya diberi ASI saja, tanpa tambahan cairan lain seperti susu formula, jeruk, madu, airt teh, air putih dan tanpa tambahan makanan padat seperti pisang, pepaya, bubur susu, biskuit, bubur nASI dan tim.
ASI eksklusif adalah pemberian ASI tanpa makanan dan minuman tambahan lain pada bayi berumur nol sampai enam bulan. Bahkan air putih tidak diberikan dalam tahap ASI eksklusif ini.
Pada tahun 2001 World Health Organization/OrganisASI Kesehatan Dunia menyatakan bahwa ASI eksklusif selama enam bulan pertama hidup bayi adalah yang terbaik. Dengan demikian, ketentuan sebelumnya (bahwa ASI eksklusif itu cukup empat bulan) sudah tidak berlaku lagi.

2.2.2 Keuntungan ASI
Dokter sepakat bahwa ASI mengurangi resiko infeksi lambung-usus, sembelit, dan alergi.Bayi ASI memiliki kekebalan lebih tinggi terhadap penyakit. Contohnya, ketika si ibu tertular penyakit (misalnya melalui makanan seperti gastroentretis atau polio), antibodi sang ibu terhadap penyakit tersebut diteruskan kepada bayi melalui ASI. Bayi ASI lebih bisa menghadapi efek kuning (jaundice). Level bilirubin dalam darah bayi banyak berkurang seiring dengan diberikannya kolostrum dan mengatasi kekuningan, asalkan bayi tersebut disusui sesering mungkin dan tanpa pengganti ASI.
ASI selalu siap sedia setiap saat bayi menginginkannya, selalu dalam keadaan steril dan suhu susu yang pas.
Dengan adanya kontak mata dan badan, pemberian ASI juga memberikan kedekatan antara ibu dan anak. Bayi merasa aman, nyaman dan terlindungi, dan ini mempengaruhi kemapanan emosi si anak di masa depan. Apabila bayi sakit, ASI adalah makanan yang terbaik untuk diberikan karena sangat mudah dicerna. Bayi akan lebih cepat sembuh. Bayi prematur lebih cepat tumbuh apabila mereka diberikan ASI perah. Komposisi ASI akan teradaptasi sesuai dengan kebutuhan bayi, dan ASI bermanfaat untuk menaikkan berat badan dan menumbuhkan sel otak pada bayi prematur.
Beberapa penyakin lebih jarang muncul pada bayi ASI, di antaranya: kolik, SIDS (kematian mendadak pada bayi), eksim, Chron’s disease, dan Ulcerative Colitis. IQ pada bayi ASI lebih tinggi 7-9 point daripada IQ bayi non-ASI. Menurut penelitian pada tahun 1997, kepandaian anak yang minum ASI pada usia 9 1/2 tahun mencapai 12,9 poin lebih tinggi daripada anak-anak yang minum susu formula. Menyusui bukanlah sekadar memberi makan, tapi juga mendidik anak. Sambil menyusui, eluslah si bayi dan dekaplah dengan hangat. Tindakan ini sudah dapat menimbulkan rasa aman pada bayi, sehingga kelak ia akan memiliki tingkat emosi dan spiritual yang tinggi. Ini menjadi dasar bagi pertumbuhan manusia menuju sumber daya manusia yang baik dan lebih mudah untuk menyayangi orang lain.

2.2.3 Manfaat ASI bagi bayi
Dibawah ini diuraikan manfaat ASI :
1. Kolostrum
Kolostrum memberikan bayi air, protein, lemak, lactose, mineral, vitamin dan antibody yang akan melindungi dirinya dari infeksi, terutama terhadap kuman yang menyebabkan gastroenteritis. Kemungkinan terjadinya radang tenggorokan kurang dari setengahnya dibandingkan bayi yang menyusu botol sedotan yang lama dan kerap segera setelah persalinan akan memberikan banyak kolostrum yang bermanfaat bagi bayi. Disamping itu juga mempercepat penggantian produksi susu dari payudara yang penuh dan matang.
2. ASI benar-benar bergizi sehingga tidak memerlukan tambahan. Komposisinya unik bagi bayi serta bervariasi bersamaan dengan pertumbuhannya. ASI mudah dicerna dan langsung terserap. Kekurangan gizi, alergi, kolik, asi, dan obesitas tampaknya lebih kecil kemungkinannya menjangkiti bayi ASI.
3. Saat-saat menyusui berkaitan dengan kenyamanan, rasa aman dan kebahagian karena bayi akan berhadapan dengan wajah ibunya, berada dekat dengan ibu dan memberikan banyak sentuhan kulit. Pemberian ASI meyakinkan bayi bahwa ia berada dalam perawatan seseorang yang dapat diandalkan yaitu ibunya.

2.2.4 Manfaat ASI bagi ibu
Yang tidak kalah pentingnya adalah manfaat yang tidak perlu diragukan lagi bagi ibu :
1. Hisapan awal, kerap dan terus-menerus menstimulasi hormon yang memproduksi dan pelepasan kolostrum, selanjutnya ASI. Kontraksi otot rahim juga membantu untuk kembali pada ukuran pra-hamil. Pemeberian ASI secara penuh selama paling tidak 6 bulan membantu ibu kembali pada bentuk tubuh semula tanpa perlu menjalankan diet khusus.
2. Ibu menyadari bahwa ibu tetap memberikan makan bayi diluar rahim, karena dengan sesuatu yang dihasilkan oleh tubuh ibu. Kesadaran ini memberikan kepuasan yang besar. Pemberian ASI merupakan bagian tak terpisahkan dari peranan sebagai ibu yang baik. Sekali sudah berjalan, ibu dapat menikmatinya.
3. Makin bayi menghisap, makin banyak pula susu yang dihasilkan. Pembuatan susu adalah proses berkelanjutan sebagai tanggapan atas rangsangan hisapan yang kerap. Susu tidak pernah “terhisap habis” dan kualitasnya tetap terjaga. Bahkan jika ibu tidak makan dengan baik dan tidak merawat diri, kecuali jika ibu membuat diri sendiri kelaparan, kesehatan adalah yang akan terganggu bukan bayi.
4. Pemberian ASI tidak memerlukan biaya dan menyenangkan : gabungan dari makanan dan minum dan tidak memerlukan persiapan. Selalu siap memenuhi tuntutan, siang dan malam. Jika anda bertamu atau bertamasya, bayi dapat anda bawa serta tanpa banyak repot dan membawa peralatan kecuali popok yang bersih. Dan pada saat-saat bahaya dan darurat ASI dapat menjadi factor penyelamat bayi anda.
5. Pemberian ASI secara penuh mempunyai efek kontraseptif tertentu, memperkecil kemungkinan kehamilan walaupun tidak mungkin mencegahnya 100%. Maka sebaiknya ibu meminta nasihat dokter mengenai pencegahan kehamilan setelah kelahiran anak, sebelum anda melakukan hubungan seksual.
Sesuai hakikatnya, pemberian ASI melahirkan komunikasi erat ibu dan bayi sejak kelahiran dan membangun hubungan yang mesra. Juga hormone yang dilepaskan selama menyusui akan memperkuat kelekatan ibu pada bayinya dan memberikan perasaan rileks, puas dan senang, sehingga ibu merindukan saat menyusui sebagai saat yang tenang dan akrab.

2.2.5 Pembagian ASI
Berdasarkan waktu diproduksi, ASI dapat dibagi menjadi 3 yaitu:
1. Colostrum merupakan cairan yang pertama kali disekresi oleh kelenjar mamae yang mengandung tissue debris dan redual material yang terdapat dalam alveoli dan ductus dari kelenjar mamae sebelum dan segera sesudah melahirkan anak.
Tentang colostrums :
- Disekresi oleh kelenjar mamae dari hari pertama sampai hari ketiga atau keempat, dari masa laktasi.
- Komposisi colostrum dari hari ke hari berubah.
- Merupakan cairan kental yang ideal yang berwarna kekuning-kuningan, lebih kuning dibandingkan ASI Mature.
- Merupakan suatu laxanif yang ideal untuk membersihkan meconeum usus bayi yang baru lahir dan mempersiapkan saluran pencernaan bayi untuk menerima makanan selanjutnya.
- Lebih banyak mengandung protein dibandingkan ASI Mature, tetapi berlainan dengan ASI Mature dimana protein yang utama adalah casein pada colostrum protein yang utama adalah globulin, sehingga dapat memberikan daya perlindungan tubuh terhadap infeksi.
- Lebih banyak mengandung antibodi dibandingkan ASI Mature yang dapat memberikan perlindungan bagi bayi sampai 6 bulan pertama.
- Lebih rendah kadar karbohidrat dan lemaknya dibandingkan dengan ASI Mature.
- Total energi lebih rendah dibandingkan ASI Mature yaitu 58 kalori/100 ml colostrum.
- Vitamin larut lemak lebih tinggi. Sedangkan vitamin larut dalam air dapat lebih tinggi atau lebih rendah.
- Bila dipanaskan menggumpal, ASI Mature tidak.
- PH lebih alkalis dibandingkan ASI Mature.
- Lemaknya lebih banyak mengandung Cholestrol dan lecitin di bandingkan ASI Mature.
- Terdapat trypsin inhibitor, sehingga hidrolisa protein di dalam usus bayi menjadi kurang sempurna, yang akan menambah kadar antobodi pada bayi.
- Volumenya berkisar 150-300 ml/24 jam.

2. Air Susu Masa Peralihan (Masa Transisi)
- Merupakan ASI peralihan dari colostrum menjadi ASI Mature.
- Disekresi dari hari ke 4 – hari ke 10 dari masa laktasi, tetapi ada pula yang berpendapat bahwa ASI Mature baru akan terjadi pada minggu ke 3 – ke 5.
- Kadar protein semakin rendah, sedangkan kadar lemak dan karbohidrat semakin tinggi.
- Volume semakin meningkat.

3. Air Susu Mature
- ASI yang disekresi pada hari ke 10 dan seterusnya, yang dikatakan komposisinya relatif konstan, tetapi ada juga yang mengatakan bahwa minggu ke 3 sampai ke 5 ASI komposisinya baru konstan.
- Merupakan makanan yang dianggap aman bagi bayi, bahkan ada yang mengatakan pada ibu yang sehat ASI merupakan makanan satu-satunya yang diberikan selama 6 bulan pertama bagi bayi.
- ASI merupakan makanan yang mudah di dapat, selalu tersedia, siap diberikan pada bayi tanpa persiapan yang khusus dengan temperatur yang sesuai untuk bayi.
- Merupakan cairan putih kekuning-kuningan, karena mengandung casienat, riboflaum dan karotin.
- Tidak menggumpal bila dipanaskan.
- Volume: 300 – 850 ml/24 jam
- Terdapat anti microbaterial factor, yaitu : antibodi terhadap bakteri dan virus, cell (phagocyle, granulocyle, macrophag, lymhocycle type T), enzim (lysozime, lactoperoxidese), protein (lactoferrin, B12 Ginding Protein), faktor resisten terhadap staphylococcus, dan complecement (C3 dan C4)

2.2.6 Komposisi ASI


Gambar 16. Komposisi ASI

Kandungan colostrum berbeda dengan air susu yang mature, karena colostrum mengandung berbeda dengan air susu yang mature, karena colostrum dan hanya sekitar 1% dalam air susu mature, lebih banyak mengandung imunoglobin A (Iga), laktoterin dan sel-sel darah putih, terhadap, yang kesemuanya sangat penting untuk pertahanan tubuh bayi, terhadap serangan penyakit (Infeksi) lebih sedikit mengandung lemak dan laktosa, lebih banyak, mengandung vitamin dan lebih banyak mengandung mineral-mineral natrium (Na) dan seng (Zn).
Berdasrkan sumber dari food and Nutrition Boart, National research Council Washington tahun 1980 diperoleh perkiraan komposisi Kolostrum ASI dan susu sapi untuk setiap 100 ml seperti tertera pada tabel berikut:

Tabel 1
Komposisi Kolostrum, dan ASI untuk setiap 100 ml

Zat-zat Gizi Kolostrum ASI
Energi (K Cal)
- Protein (g)
- Kasein/whey
- Kasein (mg)
- Laktamil bumil (mg)
- Laktoferin (mg)
- Ig A (mg)

Laktosa (g)
Lemak (g)
Vitamin
- Vit A (mg)
- Vit B1 (mg)
- Vit B2 (mg)
- Asam Nikotinmik (mg)
- Vit B6 (mg)
- Asam pantotenik
- Biotin
- Asam folat
- Vit B12
- Vit C
- Vit D (mg)
- Vit Z
- Vit K (mg)

Mineral
- Kalsium (mg)
- Klorin (mg)
- Tembaga (mg)
- Zat besi (ferrum) (mg)
- Magnesium (mg)
- Fosfor (mg)
- Potassium (mg)
- Sodium (mg)
- Sulfur (mg)

58
2,3
140
218
330
364

5,3
2,9

151
1,9
30
75
-
183
0,06
0,05
0,05
5,9
-
1,5
-


39
85
40
70
4
14
74
48
22
70
0,9
187
161
167
142

7,3
4,2

75
14
40
160
12-15
246
0,6
0,1
0,1
5
0,04
0,25
1,5


35
40
40
100
4
15
57
15
14


2.2.7 Waktu Pemberian
ASI dalam jumlah cukup merupakan makanan terbaik pada bayi dan dapat memenuhi kebutuhan gizi bayi selama 6 bulan pertama. ASI merupakan makanan alamiah yang pertama dan utama bagi bayi sehingga dapat mencapai tumbuh kembang yang optimal. Pada tahun 2001 World Health Organization / Organisasi Kesehatan Dunia menyatakan bahwa ASI eksklusif selama enam bulan pertama hidup bayi adalah yang terbaik. Dengan demikian, ketentuan sebelumnya (bahwa ASI eksklusif itu cukup empat bulan) sudah tidak berlaku lagi.
Untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan agar bayi baru lahir mendapat ASI eksklusif (tanpa tambahan apa-apa) selama enam bulan. Sebab, menurut Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia DKI Jakarta (IDAI Jaya) dr Badriul Hegar SpA (K), ASI adalah nutrisi alamiah terbaik bagi bayi dengan kandungan gizi paling sesuai untuk pertumbuhan optimal.
Tidak ada jadwal khusus yang bisa diterapkan untuk pemberian ASI pada bayi. Jadi, ibu harus siap setiap saat bayi membutuhkan ASI. Akibatnya, jika ibu diharuskan kembali bekerja penuh di luar rumah sebelum bayi berusia enam bulan, pemberian ASI eksklusif ini tidak bisa berjalan sebagaimana mestinya.
Para ahli menemukan bahwa mamfaat ASI akan sangat meningkat bila bayi hanya diberi ASI saja selama 6 bulan pertama kehidupannya. peningkatan ini sesuai dengan pemberian ASI ekslusif serta lamanya pemberian ASI bersama-sama dengan makanan padat setelah bayi berumur 6 bulan. (peningkatan mamfaat menyusui/ASI seiring dengan lamanya pemberian ASI.Red.)
Setelah ASI eksklusif enam bulan tersebut, bukan berarti pemberian ASI dihentikan. Seiiring dengan pengenalan makanan pada bayi, pemberian ASI tetap dilakukan, sebaiknya menyusui dua tahun menurut rekomendasi WHO.

2.2.8 Faktor-faktor yang memperoleh Produksi ASI
Adapun hal-hal yang mempengaruhi produksi ASI antara lain adalah:
1. Makanan Ibu
Makanan yang dimakan seorang ibu yang sedang dalam masa menyusui tidak secara langsung mempengaruhi mutu ataupun jumlah air susu yang dihasilkan. Dalam tubuh terdapat cadangan berbagai zat gizi yang dapat digunakan bila sewaktu-waktu diperlukan. Akan tetapi jika makanan ibu terus menerus tidak mengandung cukup zat gizi yang diperlukan tentu pada akhirnya kelenjar-kelenjar pembuat air susu dalam buah dada ibu tidak akan dapat bekerja dengan sempurna, dan akhirnya akan berpengaruh terhadap produksi ASI.
Unsur gizi dalam 1 liter ASI setara dengan unsur gizi yang terdapat dalam 2 piring nasi ditambah 1 butir telur. Jadi diperlukan kalori yang setara dengan jumlah kalori yang diberikan 1 piring nasi untuk membuat 1 liter ASI. Agar Ibu menghasilkan 1 liter ASI diperlukan makanan tamabahan disamping untuk keperluan dirinya sendiri, yaitu setara dengan 3 piring nasi dan 1 butir telur.
Apabila ibu yang sedang menyusui bayinya tidak mendapat tamabahan makanan, maka akan terjadi kemunduran dalam pembuatan ASI. Terlebih jika pada masa kehamilan ibu juga mengalami kekurangan gizi. Karena itu tambahan makanan bagi seorang ibu yang sedang menyusui anaknya mutlak diperlukan. Dan walaupun tidak jelas pengaruh jumlah air minum dalam jumlah yang cukup. Dianjurkan disamping bahan makanan sumber protein seperti ikan, telur dan kacang-kacangan, bahan makanan sumber vitamin juga diperlukan untuk menjamin kadar berbagai vitamin dalam ASI.

2. Ketentraman Jiwa dan Pikiran
Pembuahan air susu ibu sangat dipengaruhi oleh faktor kejiwaan. Ibu yang selalu dalam keadaan gelisah, kurang percaya diri, rasa tertekan dan berbagai bentuk ketegangan emosional, mungkin akan gagal dalam menyusui bayinya.
Pada ibu ada 2 macam, reflek yang menentukan keberhasilan dalam menyusui bayinya, reflek tersebut adalah:
- Reflek Prolaktin
Reflek ini secara hormonal untuk memproduksi ASI. Waktu bayi menghisap payudara ibu, terjadi rangsangan neorohormonal pada putting susu dan aerola ibu. Rangsangan ini diteruskan ke hypophyse melalui nervus vagus, terus kelobus anterior. Dari lobus ini akan mengeluarkan hormon prolaktin, masuk ke peredaran darah dan sampai pada kelenjar–kelenjar pembuat ASI. Kelenjar ini akan terangsang untuk menghasilkan ASI.

- Let-down Refleks (Refleks Milk Ejection)
Refleks ini membuat memancarkan ASI keluar. Bila bayi didekatkan pada payudara ibu, maka bayi akan memutar kepalanya kearah payudara ibu. Refleks memutarnya kepala bayi ke payudara ibu disebut :”rooting reflex (reflex menoleh). Bayi secara otomatis menghisap putting susu ibu dengan bantuan lidahnya. Let-down reflex mudah sekali terganggu, misalnya pada ibu yang mengalami goncangan emosi, tekanan jiwa dan gangguan pikiran. Gangguan terhadap let down reflex mengakibatkan ASI tidak keluar. Bayi tidak cukup mendapat ASI dan akan menangis. Tangisan bayi ini justru membuat ibu lebih gelisah dan semakin mengganggu let down reflex.

3. Pengaruh persalinan dan klinik bersalin
Banyak ahli mengemukakan adanya pengaruh yang kurang baik terhadap kebiasaan memberikan ASI pada ibu-ibu yang melahirkan di rumah sakit atau klinik bersalin lebih menitik beratkan upaya agar persalinan dapat berlangsung dengan baik, ibu dan anak berada dalam keadaan selamat dan sehat. Masalah pemebrian ASI kurang mendapat perhatian. Sering makanan pertama yang diberikan justru susu buatan atau susu sapi. Hal ini memberikan kesan yang tidak mendidik pada ibu, dan ibu selalu beranggapan bahwa susu sapi lebih dari ASI. Pengaruh itu akan semakin buruk apabila disekeliling kamar bersalin dipasang gambar-gambar atau poster yang memuji penggunaan susu buatan.

4. Penggunaan alat kontrasepsi yang mengandung estrogen dan progesteron.
Bagi ibu yang dalam masa menyusui tidak dianjurkan menggunakan kontrasepsi pil yang mengandung hormon estrogen, karena hal ini dapat mengurangi jumlah produksi ASI bahkan dapat menghentikan produksi ASI secara keseluruhan oleh karena itu alat kontrasepsi yang paling tepat digunakan adalah alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) yaitu IUD atau spiral. Karena AKDR dapat merangsang uterus ibu sehingga secara tidak langsung dapat meningkatkan kadar hormon oxitoksin, yaitu hormon yang dapat merangsang produksi ASI.

5. Perawatan Payudara
Perawatan fisik payudara menjelang masa laktasi perlu dilakukan, yaitu dengan mengurut payudara selama 6 minggu terakhir masa kehamilan. Pengurutan tersebut diharapkan apablia terdapat penyumbatan pada duktus laktiferus dapat dihindarkan sehingga pada waktunya ASI akan keluar dengan lancar.
















BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Teknik menyusui yang benar adalah cara memberikan ASI kepada bayi dengan perlekatan dan posisi ibu dan bayi dengan benar. Menyusui dapat dilakukan dengan posisi duduk, berdiri, sambil rebahan, menengkurapkan bayi diatas dada ibu dengan tangan ibu sedikit menahan kepala bayi supaya bayi tidak tersedak. Langkah-langkah menyusui yang benar yaitu : cuci tangan yang bersih dengan sabun, perah sedikit ASI dan oleskan disekitar putting, duduk dan berbaring dengan santai, bayi diletakkan menghadap ke ibu dengan posisi sanggah seluruh tubuh bayi, jangan hanya leher dan bahunya saja, kepala dan tubuh bayi lurus, hadapkan bayi ke dada ibu, sehingga hidung bayi berhadapan dengan puting susu, dekatkan badan bayi ke badan ibu, menyetuh bibir bayi ke puting susunya dan menunggu sampai mulut bayi terbuka lebar, segera dekatkan bayi ke payudara sedemikian rupa sehingga bibir bawah bayi terletak di bawah puting susu, cara melekatkan mulut bayi dengan benar yaitu dagu menempel pada payudara ibu, mulut bayi terbuka lebar dan bibir bawah bayi membuka lebar.
ASI eksklusif adalah pemberian ASI tanpa makanan dan minuman tambahan lain pada bayi berumur nol sampai enam bulan. Bahkan air putih tidak diberikan dalam tahap ASI eksklusif ini. Adanya kecenderungan semakin tinggi tingkat pendidikan semakin besar persentase ASI secara Eksklusif. Masih rendahnya tingkat pengetahuan ibu-ibu tentang pemberian ASI.
Perlu peningkatan penyuluhan kesehatan secara umum khususnya tentang ASI dan menyusui kepada masyarakat, khususnya kepada ibu hamil tentang gizi dan perawatan payudara selama masa kehamilan, sehingga produksi ASI cukup. Perlu ditingkatkan peranan tenaga kesehatan baik di rumah sakit, klinik bersalin, Posyandu di dalam memberikan penyuluhan atau petunjuk kepada ibu hamil, ibu baru melahirkan dan ibu menyusui tentang ASI dan menyusui.

3.2 Saran
Perlu peningkatan penyuluhan kesehatan secara umum khususnya tentang teknik menyusui yang benar dan ASI kepada masyarakat, khususnya kepada ibu hamil tentang gizi dan perawatan payudara selama masa kehamilan, sehingga produksi ASI cukup.
Perlu ditingkatkan peranan tenaga kesehatan baik di rumah sakit, klinik bersalin, Posyandu di dalam memberikan penyuluhan atau petunjuk kepada ibu hamil, ibu baru melahirkan dan ibu menyusui.
















DAFTAR PUSTAKA

Brinch, Jennifer. 1986. Menyusui Bayi Dengan Baik Dan Berhasil. Jakarta : PT.
Gaya Favorit Press
Ebrahim, G J. 1979. Air Susu Ibu. Jakarta : Yayasan Essentia Medica
Nelson, Joan. 1995. Cara Menyusui Yang Baik. Jakarta : Arcan
Soetjiningsih. 1997. ASI Petunjuk Untuk Tenaga Kesehatan. Jakarta : EGC

No comments:

Post a Comment